Oleh: Alm. Muh. Rifai latief Al Mandary
Pohon Sidra
Angin masa menerpa pohon sidra
Dan usiakupun
Gugur satu per satu
Di bawah Pohon Sidra
Kuhitung daun usia yang tersisa
Tinggal duapuluh lembar saja lagi
Aku termangu menatap Pohon Sidraku
Batangnya penuh lubang kealpaan
Dahannya meranggas
Digerus maksiat
Buahnya berbisul dosa
Akarnya tercerabut bengkalai amanah
Di bawah Pohon Sidra
Malaikat memungut daun usiaku
Empatpuluh lembar daun
Usia penuh catatan
Dijilid menjadi satu
Aku tak tau
apa yang ditulis disampulnya
Entah…..
Kitabul Fujjar
Ataukah….
Kitabul Abrar
Duhai Sang Pemilik Waktu
Bukalah mata Bashirahku
Agar terhembus ke Lauhil Mahfuzh
Akan kujaga daun sidra yang tersisa
Takkan kukotori lagi
Dengan debu dunia
Yang menipu
** Catatan refleksi 42 tahun usiaku-feb’07
(puisi favoritku, puisi terbaik yang pernah aku baca, puisi ini ditulis 40 hari sebelum beliau meninggal, saat usia beliau 42 tahun seperti yang beliau tulis “empatpuluh lembar daun”, “kuhitung daun usia yang tersisa tinggal duapuluh lembar saja lagi” aku tak kenal dan tak tau siapa orang ini tapi aku yakin siapa yang membaca puisinya akan tau sosok seperti apa Muh. Rifai Latief Al Mandary ini, semoga beliau mendapat tempat terbaik disisiNya dan semoga kita semua bisa menjaga dengan baik daun sidra kita masing2 yang masih tersisa, dengan tetap istiqamah di jalan Allah… Amin)









